KOMPETISI WEBSITE KOMPAS MuDA-KFC
Sebuah Harapan
S
enang sekali ketika aku membaca sebuah artikel di www.mudaers.com Media ini ternyata sangat perhatian terhadap rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Kompas MuDA tahun ini menggelar beberapa kompetisi yang ditujukan untuk anak muda, seperti lomba website, menulis, fotografi, komik strip. Dan yang membuatku berdecak kagum adalah, mereka mengangkat tema mulia: Bangga Indonesia!
Saya yang memiliki beberapa ide dan gagasan untuk Indonesia, memutuskan untuk berpartisipasi dalam Kompetisi Website Kompas MuDA-KFC ini. Di website pribadiku yang masih sederhana ini, aku tuliskan beberapa gagasanku untuk Indonesia. Istilahnya, aku menunjukkan rasa banggaku terhadap Indonesia, dengan berbuat: merumuskan ide dan gagasan yang mudah-mudahan bisa membuat Indonesia semakin menjadi Indonesia, mudah-mudahan generasi muda Indonesia seperti kita yang ikut Kompetisi Website Kompas MuDA-KFC dalam komunitas www.mudaers.com ini bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia.
Dan inilah, mudaers, beberapa bukti bahwa aku amat bangga kepada Indonesia.
1. Aku menulis surat kepada pak presiden Indonesia
Aku memberanikan diri menulis surat ini untuk menyampaikan gagasanku, memberikan saran kepada beliau. Surat ini , lalu dibaca pak SBY pada saat hari pelantikan presiden-wakil presiden di gedung MPR, tanggal 22 Oktober 2009. Aku bahkan diundang ke sana. Sungguh sebuah kebahagiaan tak terkira, bahwa gagasanku didengar oleh beliau. Mudaers, di dalam surat itu, aku tuliskan sebuah solusi, meskipun solusiku ini hanya untuk bidang tertentu saja. Inilah suratnya, mudaers, bacalah:
Kepada
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
Di Istana
Assalamualaikum..
Pak SBY, apa kabar tuan? semoga baik dan bahagia, sepertiku. Selamat ya sudah terrpilih lagi jadi presiden.
Tuan, ketika membaca surat ini, semoga tuan tersenyum dan kerutan di kening tuan berkurang. Kegelisahan memang selalu menghampiri setiap orang. Apalagi kepada pemimpin besar. Ingatkah tuan pada film Spiderman? Aku yakin tuan paham dengan pelajaran besar di kisah itu, “ dengan kekuatan besar, ada tanggung jawab besar”.
Apakah tuan ingin tahu siapa aku? Baiklah. Namaku nana. Seorang mahasiswa. Tenanglah tuan, jangan panik dan tegang dulu mendengar statusku sebagai mahasiswa. Aku bukan mahasiswa yang senang ikut demonstrasi dan menuntut pemerintah tanpa solusi, percayalah.
Aku justru miris ketika melihat teman-teman kampusku, atau teman-teman mahasiswa yang kusaksikan di televisi berdemo ketika peristiwa klaim Malaysia atas tari pendhet Bali yang dijadikan salah satu produk budaya pada iklan pariwisata Malaysia. Teman-temanku menganggap itu adalah kelalaian pemerintah karena kurang tegas dan kurang peduli pada perlindungan budaya Indonesia. Sebenarnya, teman-temanku menyayagimu, tuan. Tetapi mereka menyayangimu dengan cara istimewa. Teriakan mereka dan bau telur busuk yang mereka lemparkan ke kantor kedutaan besar Malaysia di Jakarta adalah sekuntum bunga mawar yang mereka tuliskan dengan surat cinta yang indah kepadamu. Sungguh, jangan sedih melihat mereka membela bangsa kita. Meski begitu, aku tetap miris dengan tindakan mereka. Mengapa surat cinta mereka kepada Indonesia tidak diwujudkan dalam bentuk solusi nyata saja?
Sekarang, tuan bacalah surat cintaku. Cintaku bukan sekadar kata-kata. Bukan deretan orasi dan skrip berita. Tetapi cintaku adalah sebuah gagasan untuk Menjadi Indonesia..
Ada dua gagasan yang ingin kusampaikan sebagai upaya memberikan solusi dan kontribusi terhadap perlindungan budaya Indonesia. Pertama, gagasan model pengembangan desa wisata berbasis seni tradisi di Indonesia. Seni tradisi kita lebih baik diberdayakan dalam paket wisata desa sehingga membantu menyejahterakan masyarakat desa sekaligus mempromosikan seni tradisi kepada wisatawan (domestik maupun mancanegara). Seni tradisi kita jangan hanya menjadi suguhan pertunjukan dalam festival, lomba, acara tujuh belasan, ulang tahun, hajatan. Tetapi seni tradisi kita menjadi budaya dan tradisi yang dijadikan kebiasaan dan tersiar ke publik lewat sosialisasi nyata setiap hari. Saya ingin mengembangkannya di Jawa Tengah. Kalau di Bali kan sudah terwujud. Model pengembangan ini sudah aku gagas dan rumuskan strateginya. Apakah tuan tertarik terhadap gagasan pertamaku?
Kedua, aku memiliki gagasan untuk melatih pengrajin batik mewujudkan Toko Batik Online di Kampung Batik di desa Kemplong kecamatan Wiradesa, kabupaten Pekalongan. Gagasan ini akan menjadi sinergitas antara pengrajin batik, kecamatan wiradesa, serta pemerintah Indonesia. Program ini diharapkan bisa mewujudkan toko batik online sebagai media promosi dan distribusi bagi pengrajin batik kecamatan Wiradesa kabupaten Pekalongan, menjadikan pengrajin batik yang berdaya memasarkan produk batiknya lewat Toko Batik Online sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin batik kecamatan Wiradesa kabupaten Pekalongan, memunculkan pengrajin batik yang tanggap teknologi sehingga bisa melayani konsumen secara online dan memajukan usaha batik tulis Pekalongan, serta menciptakan budaya dokumentasi folklore produk batik Wiradesa secara mandiri agar tercatat dan terlindungi sebagai produk asli bangsa Indonesia sehingga terhindar dari klaim negara asing. Tanpa menunggu turun hak paten, hak cipta, atau apalah itu namanya. Lebih penting secara mandiri berbuat meskipun sederhana tetapi kita mengemas produk budaya lewat cara yang estetis dan manis. Toko Batik Online itu adalah upaya preventif dan bisa menjadi budaya pencatatan folklore secara mandiri. Bagaimana, tuan, ideku menarik, bukan?
Kedua gagasanku itu sekarang sedang aku laksanakan dalam sebuah program kreativitas mahasiswa-pengabdian kepada masyarakat. Ke depan, semoga bisa tuan kembangkan gagasan itu, kita wujudkan sama-sama ya, kita jaga Indonesia bersama-sama.
Di sebuah pagi yang indah di hari minggu, lewat surat ini, nana ingin mengajak tuan mewujudkan gagasan dan mimpi yang sudah kusampaikan tadi. Aku ingin tuan tersenyum dan kening tuan tidak berkerut lagi. Aku ingin tuan tak panik mendengar kata mahasiswa. Karena ada aku disini, mahasiswa yang akan membantu pemimpinnya jika terjadi masalah di negeri ini. Gagasan desa wisata berbasis seni tradisi dan toko batik online adalah usaha sederhana yang bisa saya berikan, tuan.
Sudah dulu ya, tuan. Sekali lagi, tersenyum ya, tuan, jangan gelisah.
Wassalamualaikum…
Tegal, 12 September 2009
2. Saya membuat model desa wisata untuk Indonesia.
Ini merupakan realisasi dari gagasan yang aku sampaikan di surat kepada presiden itu. Beginilah model desa wisata yang aku sodorkan untuk semakin memperkuat pariwisata Indonesia, yang akhir-akhir ini terancam dan menurun kredibilitasnya karena faktor bencana, isu terorisme, dan sebagainya. Aku yakin, pariwisata Indonesia masih bisa dikreatifkan untuk menghalau segala trauma yang mengancam kepariwisataan. Mudaers, inilah model desa wisata yang aku beri judul: Wanurejo, the sense of Java.
WANUREJO, “THE SENSE OF JAVA”
(Sebuah Model Pengembangan Desa Wisata di Indonesia)*
Oleh: Nana Riskhi Susanti
Sejak tahun 2008, industri kreatif berkembang dan kini mulai merambah ke dalam dunia pariwisata. Apalagi, tahun 2009 adalah tahun ekonomi kreatif. Untuk itu, industri pariwisata alternatif terus dicari.
Indonesia sangat kaya akan budaya dengan ciri khas masing-masing daerahnya. Kekayaan budaya tersebut merupakan aset yang potensial dalam industri kreatif pariwisata, yang juga dapat menghadirkan daya tarik yang besar bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun pada perkembanganya, kekayaan budaya yang diangkat dalam industri pariwisata masih didominasi oleh kebudayaan-kebudayaan kerajaan dan belum menggali potensi kebudayaan-kebudayaan berbasis rakyat asli (native society culture).
Hal inipun menjadikan kebudayaan-kebudayaan kerakyatan semakin inferior dan hilang di tengah arus modernisasi. Gagasan yang ingin saya tawarkan dalam esai ini memiliki spirit yang sama untuk mendukung usaha Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk menggali dan mengangkat kebudayaan-kebudayaan kerakyatan sebagai aset bangsa yang dapat dikemas dan diperkenalkan dalam industri pariwisata. Salah satu kebudayaan rakyat yang sangat potensial adalah kebudayaan masyarakat Jawa Tengah.
Masyarakat Jawa Tengah sebagai ahli waris kebudayaan Jawa klasik bukanlah masyarakat yang homogen atau sewarna, melainkan sebuah masyarakat besar yang mekar dalam keanekaragaman budaya. Hal itu tercermin pada tumbuhnya wilayah-wilayah budaya berkarakteristik tertentu.
Borobudur, contohnya. Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah itu adalah salah satu warisan budaya dunia yang telah memberikan kontribusi bagi industri pariwisata di Indonesia. Namun, belum banyak yang mengetahui bahwa daerah sekitar Borobudur juga memiliki budaya dan tradisi khas yang berpotensi untuk disajikan dalam pengelolaan industri pariwisata.
Inilah keunggulan yang bisa disiasati secara kreatif menjadi model alternatif pengembangan desa wisata di Jawa Tengah. Pilihan akan desa yang memiliki karakteristik tersebut jatuh kepada sebuah desa bernama Wanurejo.
Desa tradisional yang berjarak 2 km dari taman wisata Borobudur ini memiliki daya tarik. Desa yang terdiri atas 9 dusun, itu dihuni oleh masyarakat yang melestarikan seni tradisi dan kerajinan rakyat yang khas. Kelompok tari dan kerajinan ada di setiap dusun. Namun, pengembangan potensi wisata budaya ini masih belum ditangani secara optimal.
Ibu Umi Aminah Kepala Desa Wanurejo menyatakan bahwa masyarakat Wanurejo berkeinginan untuk menjadikan Wanurejo dikenal sebagai saung budaya. Namun kendalanya selama ini, manajemen pengelolaannya masih sangat konvensional karena pembagian tugas yang belum jelas dan terstruktur, serta promosi yang masih belum maksimal masih menjadi problem yang perlu segera dicari solusinya.
Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk mengemas potensi wisata yang dimiliki Wanurejo dalam paket wisata yang menawarkan kekuatan budaya kerakyatan peninggalan nenek moyang yang khas Jawa. Unsur yang ditonjolkan dalam desain paket wisata budaya meliputi adat, perilaku masyarakat, kesenian tradisional, dan cendramata unik yang sukar dilupakan, serta nilai-nilai budaya setempat yang khas Jawa. Dengan kemasan yang lebih profesioanl ini, Wanurejo diharapkan menjadi salah satu ikon unggulan dalam sektor pariwisata di Indonesia.
Dengan melihat beberapa potensi dan kondisi yang dimiliki oleh Wanurejo penulis menawarkan sebuah model pengembangan desa wisata yang disebut Wanurejo, “The Sense of Java”. Secara luas model ini diharapkan dapat diterapkan pada desa-desa lain yang potensial di Indonesia yang selama ini belum tergarap pengembangannya.
Hingga saat ini, pengelola Wanurejo yang terdiri atas Pemerintah Daerah Magelang dan masyarakat Wanurejo telah melakukan inventarisasi aset dan potensi yang dimiliki Wanurejo sebagai objek wisata. Wanurejo memiliki banyak aset yang strategis dan menarik yaitu berupa adat, perilaku masyarakat, kesenian tradisional, dan cendramata unik yang sukar dilupakan, serta nilai-nilai budaya setempat yang benar-benar mencerminkan ciri khas Jawa. Lebih dari itu, pengelola Wanurejo, bapak Triyanto berkeinginan untuk merancang bentuk paket wisata yang akan ditawarkan.
Berdasarkan penuturan kepala Desa Wanurejo Ibu Umi Aminah, tokoh-tokoh desa, kepala kantor pariwisata Magelang serta meninjau lokasi dan potensi budaya di Wanurejo, maka saya dapat mendeskripsi beberapa alternatif potensi wisata yang dapat dikembangkan, sebagai berikut: (1) Wisata alam berupa pemandangan alam dari tempuran (pertemuan dua sungai) Sungai Progo dan Sungai Elo, pemandangan alam di dusun Ngentak dan Soropadan yang dapat dinikmati sambil naik gajah, (2) Wisata kesenian yaitu berbagai kesenian tradisional Wanurejo misalnya tontongklek, pituturan, tari dayakan, tari topeng hitam dan tari jathilan serta lagu Dhandang Gulo yaitu lagu yang menceritakan asal-usul Wanurejo. Selain kesenian-kesenian tradisional tersebut, Wanurejo juga memiliki sanggar kesenian musik yang telah mengelaborasikan antara instrumen musik tradisional dan modern. Kesenian masyarakat Wanurejo juga terlihat pada cerita rakyat (sejarah) wanurejo, dan atraksi pencak silat, (3) Wisata kerajinan berupa pinsil gaul dari biji nyamplungan, resine atau fiber, ukir bambu, patung gipsum, topeng kayu, keramik, maubel bambu, dan bengkel lukis, (4) Wisata kuliner berupa kerajinan makanan tradisional berupa tempe dan rengginang, (5) Wisata situs sejarah berupa candi Pawon dan rumah tradisional Jawa kuno yang berumur sekitar 200 tahun, (6) Wisata pertanian berupa aktivitas pertanian masyarakat Wanurejo di sawah, kebun, kolam ikan, kandang ternak tradisional milik masyarakat Wanurejo, dan pusat budidaya Anggrek, (7) Wisata permainan tradisional berupa permainan tradisional anak Wanurejo (dakon, egrang, jengkle, eleng bataan, bababuan, cakoan, dan benteng), (8) Wisata ziarah atau religi berupa makam leluhur Wanurejo, (9) Wisata adat berupa upacara adat seperti nyadran (upacara mengirim doa untuk leluhur), saparan rangkaian kegiatan merti desa (bersih desa atau sedekah bumi) dan festival kesenian tahunan Wanurejo pada hari jadi Wanurejo yaitu setiap tanggal 17 Mei.
Kemungkinan Pengembangan Potensi
Dari 9 potensi paket wisata yang ada di Wanurejo dapat dikembangkan menjadi kegiatan-kegiatan wisata khas Wanurejo sebagai berikut: (1) Pengembangan daerah Brojolan untuk melihat keindahan alam Wanurejo. Selain dapat dinikmati dengan Gajah, juga dengan menyediakan berbagai macam sarana transportasi khas Jawa seperti Sepeda ontel tua yang masih ada di Wanurejo, dan Andong, (2) Pengembangan kesenian Wanurejo dapat dilakukan dengan membentuk kantong-kantong seni di setiap dusun. Selanjutnya, dibuat jadwal tampilan-tampilan dari setiap dusun. Desa Wanurejo juga telah memiliki pusat budaya desa. Yaitu di wilayah Candi Pawon dusun Brojolan. Wilayah ini dapat dijadikan sebagai pusat kantong budaya desa, (3) Cerita-cerita rakyat sebagai tradisi lisan di Wanurejo dapat didata dan dikumpulkan dan ditampilkan di event-event Wanurejo seperti pada saat bulan Sapar pada acara Saparan dan di festival kesenian tahunan Wanurejo, (4) Dengan pembimbingan yang intensif, masyarakat Wanurejo dapat diarahkan pada pembentukan pasar kerajinan rakyat yang akan dipusatkan di dukuh Brojolan sekitar Candi Pawon, (5) Potensi makanan rakyat yang ada di Wanurejo akan diinventarisasi sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk wisata kuliner yang bukan hanya menjual produk jadi namun juga menyuguhkan proses pembuatanya secara langsung secara khas. Sentra wisata kuliner ini akan dipusatkan di Dusun Bejen dan Tingal. Diharapkan, nantinya Wanurejo dapat menjadi sentra tempe dan rengginang yang merupakan makanan khas Indonesia yang sampai sekarang belum memiliki sentra produksi, (6) Bentuk pengemasan wisata-wisata yang ada di Wanurejo dapat dikemas dalam model interaktif. Antaralain dalam penyajian wisata anak-anak dan pertanian. Para wisatawan dapat diarahkan untuk menonton, berlatih, dan mencoba aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat asli.
Strategi Pengembangan Wanurejo, “The Sense of Java”
Untuk mengembangkan Wanurejo, “The Sense of Java” dengan pengembangan potensi yang saya jelaskan tadi, dibutuhkan stategi pengembangan, yaitu: pelabelan; perintisan visi, misi, jiwa dn karakter, penganalisisan lingkungan pemasaran, dan perumusan alternatif strategi pengembangan.
Pertama, melakukan pelabelan Wanurejo, The Sense Of Java (bermakna cita rasa Jawa). Kedua, pelabelan dilanjutkan dengan perintsan visi, misi, jiwa dan karakter.
Ketiga, untuk mengembangkan desa wisata Wanurejo diperukan analisis lingkungan pemasaran. Inilah identifikasi yang telah saya analisis:
Kekuatan lingkungan internalnya adalah dukungan sumber daya manusia yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, fasilitas yang cukup memadai, potensi dari berbagai aspek sebagai objek wisata, serta lokasi dan potensi alam dengan karakteristik bentang alam yang khas.
Disamping itu, peru diperhatikan pula, ternyata ditemukan beberapa kelemahan lingkungan internal Wanurejo, yaitu kurangnya sumber daya manusia pengelola wisata, sistem manajemen wisata yang masih konvensional, kurangnya dana operasional, kesulitan dalam menetapkan harga, pemasaran yang belum optimal, dan promosi yang belum merata.
Saya pun melihat peluang pengembangan Wanurejo, “The Sense of Java”, yaitu, investor mitra yang dapat berperan sebagai pemasok, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat, kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan pariwisata, konsep pariwisata back to nature yang sedang diminati masyarakat, dan tingginya permintaan akan wisata budaya.
Sedangkan faktor-faktor yang menjadi ancaman antara lain munculnya desa lain yang mulai mengembangkan strategi pemasaran yang sama, adanya pesaing dengan produk substitusi, pengunjung yang berpotensi merusak dan mencemari alam, dan kemacetan menuju lokasi.
Alternatif Rumusan Strategi Pengembangan Wanurejo
Tahap pemuncak dalam merumuskan pengembangan desa wisata wanurejo adalah menciptakan alternatif strategi pengembangan. Ada tujuh alternatif strategi pengembangan yang diperoleh dengan mengkombinasikan antara kekuatan dan peluang, kelemahan dan peluang, kekuatan dan ancaman, serta kelemahan dan ancaman.
Tujuh alternatif tersebut saya sesuaikan dengan konsep bauran pemasaran jasa. Pada strategi produk, alternatif strategi yang digunakan adalah membuat variasi paket wisata serta menciptakan cindera mata yang unik dan sukar dilupakan. Pada strategi bukti fisik, dilakukan pemeliharaan terhadap fasilitas dan pembangunan fasilitas . untuk strategi proses, dibutuhkan pola dan pelayaanan wisata yang memudahkan pengunjung.
Untuk strategi harga, maka perlu menetapkan nilai tambah dan harga yang ditawarkan. Pada strategi personel, perlu menambah kuantitas dan kualitas pengelola Wanurejo, The Sense of java. Pada strategi tempat, dirumuskan konsep pemeliharaan untuk menjaga kelestarian tempat wisata dan menyediakan angkutan khusus dengan jalur alternatif. Dan yang pemuncak, strategi promosi, membuat promosi yang baik dan merata ( menjadi tuan rumah perhelatan festival kesenian, sarasehan budaya, atau duta wisata).
Desa Wisata untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat Lokal
Jika model pengembangan desa wisata ini diwujudkan, maka akan membrikan kontribusi bagi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Perekonomian masyarakat dalam pengelolaan budaya akan meningkat karena pengembangan ini merupakan sarana promosi yang baik. Lingkungan ekologi Wanurejo menjadi lebih tertata.
Masyarakat Wanurejo dan sekitarnya akan mendapat pelajaran secara nyata terhadap wisata budaya dalam bentuk pengembangan kemampuan wirausaha, dan pengembangan soft skill warga masyarakatnya. Lapangan pekerjaan baru akan tercipta, sehingga terjadi pemberdayaan masyarakat sekitar dan secara luas akan menambah devisa negara.
Aktivitas masyarakat dalam batas tertentu diperkirakan akan terganggu. Tapi hal ini dapat diatasi melalui penataan manajemen personal secara baik, misalnya dengan melakukan pengaturan waktu kunjungan wisata.
Disamping itu, dampak negatif lain yang mungkin muncul adalah terjadi perubahan kondisi lingkungan (ekologi) dalam jangka panjang seperti vandalisme, kerusakan alam, atau kerusakan sarana wisata oleh wisatawan. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan pendidikan sadar lingkungan kepada calon pengunjung atau wisatawan.
Jika dikhawatirkan terjadi pengalihfungsian tujuan wisata, misalnya munculnya wisata muda-mudi, hal ini dapat diatasi dengan memberikan arahan dan apersepsi budaya yang dimasukkan ke dalam sistem paket wisata Wanurejo.
Dampak yang meluas dalam sistem budaya yang juga dikhawatirkan adalah terjadi pelanggaran sistem budaya dan religi akibat efek demonstrasi wisatawan yang ditiru oleh komunitas lokal, seperti masuknya budaya yang dibawa oleh pengunjung. Hal ini dapat menimbulkan perubahan pola hubungan dan gaya hidup masyarakatnya. Solusinya adalah dengan melakukan orientasi dan preservasi budaya dan religi Wanurejo kepada calon pengunjung atau wisatawan pada saat menyambut kedatangan para calon wisatawan. Di samping itu, calon wisatawan diberikan juga rambu-rambu atau pedoman berwisata di Wanurejo misalnya via booklet atau leaflet wisata.
Rekomendasi
Dalam pelaksanaan konsep ini, perlu meningkatkan fokus pada bidang pemasaran melalui strategi promosi, personel, dan harga. Dalam pelaksanaannya, perlu memperhatikan dampak negatif yang mungkin muncul dengan dikembangkannya Wanurejo sebagai desa wisata dengan cara memastikan semua produk pengembangan desa wisata ini merefleksikan label “The Sense of Java”.
Selain itu, pengelola perlu melakukan kajian lebih mendalam untuk menentukan bobot (kadar kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) masing-masing faktor internal dan faktor eksternal melalui bekerjasama dengan akademisi, sehingga dapat ditentukan prioritas langkah-langkah implementasi pengembangan yang tepat, serta hendaknya ada kerjasama yang sinergis antara pekerja seni, pemerintah, dan akademisi untuk ikut serta melestarikan potensi-potensi budaya di wanurejo dan mewujudkan Wanurejo sebagai desa wisata budaya.
Model pengembangan desa wisata ini saya gagas untuk memberikan solusi bagi beragamnya tradisi di Indonesia yang sebetulnya bisa disiasati secara kreatif menjadi wahana istimewa bagi pemberdayaan masyarakat berkearifan lokal melalui industri kreatif pariwisata. Semoga gagasan ini bisa dipilih sebagai alternatif jalan menuju “MENJADI INDONESIA” lewat gang sempit yang bernama seni tradisi dan kearifan lokal. Amin.
3. Aku Mendirikan Sekolah Cinta Bahasa
(Gerakan Cinta Bahasa Indonesia)
aku mencoba mewujudkan gagasanku untuk menyediakan fasilitas e-learning berupa Sekolah Cinta Bahasa. dengan fasilitas ini, aku berharap bisa mewujudkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia Jarak Jauh.
jika semua komponen dan perijinan sudah siap, sekolah ini bukan hanya bisa dinikmati lewat dunia maya, tetapi akan didirikan sebagai lembaga formal pembianaan bahasa dan sastra Indonesia. mohon doanya ya…
Mudaers, aku berharap dengan Kompetisi Website Kompas MuDA-KFC ini bisamenjalin silaturahmi yang agung dan mendatangkan manfaat untuk kita semua. aku mengundang kalian semua untuk ikut berpartisipasi dalam Gerakan Cinta Bahasa Indonesia yang ada di Sekolah Cinta Bahasa. mudaers yang tergabung di Komunitas Kompas MuDA www.mudaers.com dapat mengirimkan artikel, puisi, esai, maupun opini ke sekolahcintabahasa.multiply.com.
ayo wujudkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia: Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Bangsa dan Negara!

PHINISI PUISI