Feeds:
Tulisan
Komentar

DI MATA NENEK

kudekap boneka kusam

kupandang teduh nenekku

dan kudengar dongengnya tentang surga

di kelambu itu kusimpan segala lagu

serupa ingatan-ingatan penuh pertikaian

di rumah;

wajah ibu dan lori-lori tua di pabrik gula

kadang pula kekosongan di tangan ayah

aku menangis keras di sudut ladang

dan kadang mengerang

aku tak pernah tahu

seperti apa rasa gula, Tuhan

apa kau tega mencuri sisa kenangan

yang tertanam di mata nenek;

jika matanya menunjuk pagi

bisa kucium harum bunga, berkejaran di kebun pandan,

menatap jalanan, pohonan, dan takjub pada langit fajar

ketika senja berubah warna

dan malam menampakkan keangkuhannya

pada mata nenek kubaca huruf-hurufmu

kukenali sejarah, kitab, doa, nabi, dan wali

sekarang, mata nenek hilang

aku tak bisa lagi membaca segala-galanya

ia tak mau bercerita

ia belum pulang sampai sekarang

bukankah kau curi

lengkap dengan kelambunya?

kuminta kau mengirimi malaikat

tapi bukan untuk meruntuhkan mimpi

Tegal, 2008

KUTULIS PUISI DI PASIRMU


Kutulis Puisi Di Pasirmu

hanya doa

sembunyi di batu-batu

di mawar sunyi

di pagar rindu

di langit sengit

aku menyebut

membawa benang-benang baru

untuk hidupku

hidupmu

ia tertulis di telapak tangan

lihatlah garis-garisnya!

ia tak bisa diubah

bahkan oleh kenangan

kutulis puisi pada pasirmu

ingatkah kau pada lampu tua itu

bangku coklat penuh rayap kayu

dinding putih penuh kaligrafimu

tirai hijau berderai-derai

mendengar rinduku yang tak sampai padamu

karna kupilih mawar sedang aku berduri

kusembah tiang-tiang sedang aku bambu

kubaca zikir sedang aku sihir

kuhiba laut sedang aku lembah takut

kutulis puisi pada pasirmu

betapa sakitnya doaku yang menunggu sampai

diantara doa karang

ikan

ombak

nelayan

para pemabuk di laut itu

aku ingin mengurai cinta

seperti puisi pasir pejalan sunyi

meski terhapus gelombang

yang dikirimkan doa ikan-ikan

meski impian tak cukup untuk dituliskan

anak-anak surau

membaca hurufmu

diantara tiang-tiang perahu

ketika matahari mulai sembunyi

aku masih menulis puisi

di pasirmu

2008


_puisi ini termuat di republika, 21 september 2008 dan masuk dalam buku 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana

PERKABUNGAN CINCIN

Perkabungan Cincin

untuk ia
yang merajai seluruh kerdip mata
yang mengalungkan keraguan di dada

telunjuk kananku
-aku percaya-
bisa menuntunmu ke tempat semula
jalan dimana kau bisikkan sesuatu hal dengan hatihati
sesuatu hal yang membawa kita ke panggung sederhana ini
sebelum melewati rel-rel penuh gumam
menjumpai benturan-benturan keras di kepalaku

dan tak perlu berkabung
jika cincin ini mengusikmu
membangunkanmu
dari mimpi yang kau susun sendiri

pastilah ada api menyala dari kayu hijau
kayu yang akan kau hanguskan suatu malam nanti
saat kau tak mampu menampung lenguhku

aku sudah bercermin sebelum kau menyuruhku
dan dengan amat sadar kupuja-puja kesenyapanmu
seperti puisi-puisiku
membenam-benamkan keningmu yang salju

2009

PHINISI PUISI

PHINISI PUISI

; m.g.

Layar Pertama:
Lelaki Platonik

ada yang menuntunmu mendatangiku
sudah terbuka kelopak bunga
ada yang menuntunku menemuimu
lihatlah malam berganti warna

disini pohon-pohon cemara berjajar
sepasang lebah mengulum madu dan menjatuhkannya ke tanah
disini rindu sudah tersulam dan terpagar
nyeri aku merajuk pada rasa manis dan dalam dirimu aku merajah

datanglah, o, lelaki berperahu phinisi
menurunkan siang pada lubuk risauku yang hitam
memuaikan tiang-tiang pada angkasa senyapku yang legam
jemputlah aku di bukit sajak, pagi-pagi

sesungguhnya, o, empedu kegembiraan di hati tuan
adalah selembar sungai tergelar di siangku yang ungu
meski sampai kini belumlah aku paham, tuan
sekeramat takdir atau bebatu nasibkah itu yang menuntunmu menujuku

Layar Kedua:
Kedatangan Nila

takkan rusak cinta sebelanga
bila tak kau bubuhkan nila pura-pura

Layar Ketiga:
Perih Yang Mulia

jangan kau gosok lagi luka lama
senyampang ia mulai sembuh serupa kuning subuh
tapi, ah, karena kau nakal juga menggosoknya
bertambah ia kemana-mana, menjalarlah

ke ruang paling riang nyawa mulai meregang
ia akan berkembang sembunyi-sembunyi
serupa ketabah-jelian ganggang
di pucuk batu-batu di hulu hati ini

Layar Keempat:
Pisau Pencinta

adalah pisau paling kilau
mencari-cari kegempalan batinmu, yang galau
sebilah pisau paling pukau
menyimak bunyi serak sepatumu, kejutan penuh ranjau

pulanglah luka lama, o, luka menganga dari tusuk si pendusta
kuhalau engkau dari wangi mawar sia-sia
sebab batinmu dan batinku adalah satu telaga
kemarilah, menangislah sepuas-puasnya di pundak dinda

masuklah suka cita, o, suka cita yang kukirimkan dalam peti pesan
dalam dirimu kuikatkan sesimpul keyakinan
bahwa kepedihan di dahan jantungmu mulai kugugurkan
tanpa silau pisau yang membuatmu gemetaran

Tegal, April 2009

PUISI-PUISI FAVORIT NANA

HUJAN

sudah berbilang bulan
ia pun pergi ke dalam hujan
lalu mekar
di embun pagi terlalu bersinar

cintaku, cintaku burung undan
layar putih sebelum hujan

PLUIE

voilà déjà bien des mois
qu’il s’est enfoncé dans la pluie
puis, il s’est épanoui
dans la roseée matinale toute de scintillement

mon amour, mon amour est un pélican
un écran blanc aprés la pluie

(dari buku Paris La Nuit: Sajak-sajak Sitor Situmorang dalam bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa Perancis.2002. Diterbitkan oleh Forum Jakarta-Paris dan Komunitas Bambu. Puisi berjudul Hujan diterjemahkan oleh Louise-Charles Damais)